Fed Bakal Tetap Borong Obligasi, Harga SBN Kompak Menghijau

Jakarta, CNBCIndonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kompak ditutup menguat pada perdagangan Kamis (7/4/2021), setelah investor lega melihat risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) yang mempertahankan kebijakan pembelian obligasi untuk menopang harga yang stabil dan penyerapan penuh tenaga kerja.

Seluruh SBN acuan berbagai tenor hari ini akhirnya kembali ramai dikoleksi oleh investor, ditandai dengan penurunan imbal hasil (yield) di semua SBN acuan. Adapun yield SBN seri FR0087 dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali turun sebesar 7,6 basis poin (bp) ke level 6,464%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Pelaku pasar obligasi akhirnya dapat menerima keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang tetap mempertahankan kebijakan pembelian obligasi untuk menopang harga yang stabil dan penyerapan penuh tenaga kerja.

Alhasil, dari sikap pelaku pasar tersebut, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) kemungkinan akan kembali menurun pada hari ini, terindikasi dari yield-nya yang kembali turun pada sore hari ini waktu Indonesia.

Berdasarkan data dari situs World Government Bond, yield Treasury kembali turun sebesar 2,8 basis poin ke level 1,651% pada pukul 17:15 WIB. Penurunan yield Treasury juga bisa dibilang tidak tipis, namun juga tidak signifikan. Penurunan yield Treasury yang kembali terjadi pun diikuti oleh penurunan yield SBN acuan di semua tenor.

Tapering dan segala bentuk pengetatan moneter lain dinilai sebagai suatu hal yang prematur atau terlalu dini untuk dilakukan saat ini. Jerome Powell sang ketua The Fed sudah berkali-kali menegaskan hal ini ke publik.

READ  Joe Biden Hingga RI Bebas CAD

Para pembuat kebijakan The Fed memperkirakan ekonomi akan pulih secara substansial pada 2021 di tengah pembukaan kembali ekonomi dan mereka percaya pertumbuhan yang lebih kuat dari rata-rata di tahun-tahun berikutnya akan terus memfasilitasi pemulihan pasar tenaga kerja.

“Pertumbuhan PDB riil diproyeksikan menjadi substansial tahun ini dan tingkat pengangguran diperkirakan menurun secara signifikan,” tulis risalah The Fed.

Risalah pertemuan The Fed menunjukkan bahwa sementara para pejabat melihat ekonomi meningkat secara substansial, mereka melihat lebih banyak kemajuan yang dibutuhkan sebelum perubahan kebijakan yang sangat mudah.

Di lain sisi, Presiden AS Joe Biden pada Rabu di Washington menyatakan siap bernegosiasi terkait dengan rencana kenaikan pajak penghasilan (Pph) badan menjadi 28%, guna mendanai program infrastrukturnya senilai US$ 2 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Buat Kesalahan di MotoGP Doha 2021, Begini Tanggapan dari Pol Espargaro

Read Next

Jessica Mila, Omar Daniel dan Jerome Kurnia bersatu di “Invalidite”

Tinggalkan Balasan