Apa itu MBTI dalam Psikologi?

Apa itu MBTI dalam Psikologi?

Berikut akan Asaljeplak jelaskan mengenai apa itu MBTI dalam psikologi, mulai dari sejarah terciptanya, hingga bagaimana cara menggunakannya untuk menentukan tipe kepribadian yang kita miliki.

Apakah dalam beberapa waktu belakangan ini kamu sering menemukan seseorang yang mengatakan dirinya memiliki tipe kepribadian tertentu, menggunakan kombinasi empat huruf seperti misalnya INFP, ESTJ, ISFP, ENFP, dan lain sebagainya? Kemungkinan besar mereka sedang mengungkapkan tipe kepribadian yang termasuk ke dalam teori tipe kepribadian MBTI (Myers–Briggs Type Indicator).

Teori tipe kepribadian MBTI ini beberapa tahun belakangan semakin populer dan digunakan oleh berbagai kalangan, yang mana hal ini kemungkinan besar berasal dari ketidakpuasan dalam mengkategorikan kepribadian ke dalam kepribadian Introvert atau Ekstrovert saja, karena memang akan menjadi terlalu umum dan kurang spesifik.

Pada pembahasan kali ini, Asaljeplak akan menjelaskan secara rinci mulai dari sejarah awal penyusunan teori MBTI hingga bagaimana menggunakan tes MBTI untuk menentukan tipe kepribadian apa yang kita miliki, sampa kepada mengenai apakah MBTI ini termasuk ke dalam pseudo-sains atau memang telah teruji secara sains.

Sejarah MBTI

Sejarah MBTI membawa kita kembali ke tahun 1917, dimana pada saat itu, Katharine Cook Briggs, seorang ibu rumah tangga asal Michigan, Amerika Serikat, bertemu dengan calon suami dari anak perempuannya, Isabel Briggs, yang bernama Clarence Myers.

Katharine memandang calon menantunya ini memiliki kepribadian dan pandangan yang jauh berbeda soal kehidupan, apabila dibandingkan dengan dirinya dan keluarganya, serta didasari oleh minat Katharine dalam hal berbau psikologi dan kepribadian manusia, terutama yang dicetuskan oleh seorang psikiatris dan psikoanalis asal Swiss yang bernama Carl Jung.

Katharine sendiri bukanlah seorang pakar psikologi. Gelar akademis Katharine adalah seorang sarjana Agrikultur, dan bekerja sebagai guru usai lulus kuliah, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah dengan seorang fisikawan yang bekerja di departemen pemerintahan bernama Lyman James Briggs.

Pekerjaannya sebagai guru tersebut-lah yang memulai ketertarikannya terhadap bidang psikologi, terutama psikologi anak, terutama tentang mengenai bagaimana cara mendidik anak yang lebih baik. Katharine mengembangkan teori-teorinya sendiri dan bahkan menyusun tes vokasi untuk anak-anak, yang dikhususkan untuk memastikan perkembangan anak bisa berjalan dengan lancar sesuai kecenderungan minat dan bakat dari anak tersebut.

Pada tahun 1917, setelah kesulitan dalam menentukan teori yang pasti dari para ahli sebelumnya, Katharine akhirnya merumuskan empat tipe kepribadian utama berdasarkan risetnya sendiri yaitu Meditative, Spontaneus, Executive, dan Sociable.

Namun, setelah Carl Jung menerbitkan buku berjudul “Psychological Types” pada tahun 1923, Katharine mulai mengesampingkan teori-teori kepribadian yang ia kembangkan sendiri, dan fokus mendalami tipe-tipe kepribadian yang ditulis oleh Carl Jung pada bukunya tersebut.

Sebelum melanjutkan soal Katharine, sebelumnya Asaljeplak juga akan menjelaskan mengenai putri dari Katharine yaitu Isabel Briggs Myers, yang juga memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan teori MBTI.

Isabel mengambil jurusan Sains-Politik saat kuliah, dan masa kecilnya juga dihabiskan melalui pendidikan rumah alias home-schooling seperti ibunya.

BACA JUGA:  11 Cara Alami Mencegah Asam Lambung dan Heartburn

Isabel bertemu dengan Clarence Myers yang juga kuliah di universitas yang sama dengan Isabel, namun mengambil jurusan Hukum, dan kemudian mereka menikah pada tahun 1918.

Awalnya Isabel tidak terlalu tertarik dengan teori kepribadian, namun berubah pikiran setelah diperkenalkan dengan buku “Psycologhical Types” milik Carl Jung oleh ibunya, ditambah lagi dengan minatnya dalam mendalami mengenai bagaimana mengetahui jenis pekerjaan yang cocok untuk tipe kepribadian tertentu yang dimiliki seseorang.

Selama sekitar 20 tahun, Isabel bekerja sama dengan ibunya, Katharine, dalam melakukan pengamatan terhadap tipe kepribadian seseorang, dan menyusun teori milik mereka sendiri.

Meningkatnya keterlibatan Amerika Serikat pada saat Perang Dunia 2 berlangsung menyebabkan Isabel semakin meyakini adanya kebutuhan akan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk menyortir orang-orang yang tepat untuk jenis pekerjaan tertentu, terutama yang berhubungan dengan militer.

Isabel kemudian menyusun teorinya sendiri yang merupakan kombinasi dari implementasi teori tipe kepribadian Carl Jung dengan hasil riset yang ia lakukan dengan ibunya selama 20 tahun tersebut, yang kemudian menjadi MBTI yang kita kenal sekarang ini.

Pada tahun 1945, dengan bantuan sang Ayah, Lyman Briggs, Isabel dan ibunya sukses menyelenggarakan tes resmi pertama mereka pada mahasiswa-mahasiswi George Washington Medical School.

Pada tahun 1962, rangkaian tes MBTI yang dikembangkan oleh Katharine dan Isabel resmi digunakan oleh Educational Testing Service (ETS), sebuah organisasi pendidikan non-profit asal Amerika Serikat yang telah berhasil mengembangkan banyak tes standardisasi dalam bidang pendidikan.

Sejak itu diperkirakan sekitar 50 juta orang telah mengikuti dan menjalani tes MBTI yang dikembangkan oleh Katharine dan Isabel.

Apa Itu MBTI

MBTI dirancang untuk menentukan kombinasi kekuatan, tipe kepribadian, dan preferensi dari seorang individu, yang kemudian akan digolongkan kepada salah satu dari enam belas tipe kepribadian yang ada di dalam MBTI.

Tidak ada kepribadian yang lebih superior antara satu dengan yang lainnya, dan tes MBTI ini dirancang agar individu dapat semakin memahami mengenai diri mereka sendiri usai menjalani tes yang diadakan.

Pada saat menjalani tes MBTI, kita akan dihadapkan pada empat skala kepribadian yang berbeda, yaitu:

Extraversion (E) – Introversion (I)

Salah satu tipe kepribadian mendasar yang sering kita dengar sehari-hari, yang juga lebih dikenal dengan istilah Ekstrovert dan Introvert.

Pada MBTI, kepribadian Ekstrovert lebih mengarah kepada individu yang lebih menyukai aktivitas yang mengandung aksi, interaksi sosial yang lebih sering, dan mendapatkan energi dari berkumpul dengan banyak orang, atau yang juga dikenal dengan istilah “outward tuning”.

Sementara Introvert adalah kebalikannya, yaitu kepribadian “inward tuning” yang lebih menyukai aktivitas yang berhubungan dengan pikiran, lebih menyukai interaksi sosial yang lebih “dalam” dan “berarti” yang menyebabkan mereka cenderung lebih pilih-pilih dalam hal berkumpul dan menjalin pertemanan, dan mendapatkan energi saat sedang menyendiri serta merasa lelah apabila harus menghabiskan waktu dengan banyak orang.

Ini tidak berarti seorang Ekstrovert tidak senang menyendiri atau seorang Introvert tidak senang bersosialisasi ya, melainkan yang dilihat disini adalah lebih kepada tendensi seseorang secara umum untuk lebih ke arah mana.

Sensing (S) – Intuition (N)

Skala kepribadian ini berkaitan dengan bagaimana seseorang mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitar.

Seseorang yang cenderung melakukan Sensing akan lebih percaya pada informasi yang faktual dan bisa dirasakan oleh indra mereka, dan kepada hal-hal yang telah mereka alami sendiri.

BACA JUGA:  Kenali Perbedaan Kanker Rahim dengan Sakit Perut Biasa

Sementara seseorang yang cenderung mengandalkan intuisi (Intuition) akan lebih memperhatikan pola dan pesan tersembunyi dari suatu hal yang terjadi, probabilita yang mungkin terjadi, dan hal-hal yang bisa diterjemahkan dengan “logika” mereka sendiri meskipun secara fakta tidak dapat terlihat dengan jelas.

Thinking (T) – Feeling (F)

Skala kepribadian ini menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan berdasarkan informasi yang mereka dapatkan, baik itu secara Sensing maupun Intuition.

Seseorang yang cenderung memiliki kepribadian Thinking akan lebih menekankan kepada fakta dan mencoba memandang suatu hal dengan lebih riil.

Berbeda dengan seseorang yang cenderung memiliki kepribadian Feeling yang lebih mengedepankan empati dan emosi yang dirasakan pada saat menyimpulkan suatu informasi.

Judging (J) – Perceiving (P)

Terakhir, skala kepribadian Judging dan Perceiving akan menentukan bagaimana seseorang menghadapi dunia luar atau orang lain.

Mereka yang cenderung Judging akan lebih menyukai keputusan yang terstruktur dan tegas ataupun pasti, sementara mereka yang cenderung Perceiving akan lebih terbuka, fleksibel, dan melakukan adaptasi apabila diperlukan.

Keempat skala kepribadian yang telah disebutkan diatas tersebut akan saling berhubungan dan tidak bisa dilihat secara terpisah, karena nantinya kombinasi dari keempat skala lah yang akan menentukan kepribadian apa yang dimiliki oleh seseorang.

16 Tipe Kepribadian MBTI

Dari empat skala yang akan diuji pada tes kepribadian MBTI, nantinya akan muncul salah satu dari enambelas tipe kepribadian berdasarkan MBTI. Keenambelas tipe kepribadian berdasarkan tes MBTI tersebut adalah sebagai berikut:

  • ISTJ – The Inspector: Tidak mudah terbuka dan praktis, cenderung setia, menyukai aturan, dan tradisional.
  • ISTP – The Crafter: Sangat mandiri, mereka menikmati pengalaman baru yang memberikan pelajaran langsung dalam hidup.
  • ISFJ – The Protector: Ramah dan berdedikasi, selalu siap melindungi orang-orang yang mereka sayangi.
  • ISFP – The Artist: Mudah bergaul, santai, dan fleksibel, namun cenderung kurang terbuka dan artistik.
  • INFJ – The Advocate: Kreatif dan analitis, salah satu tipe kepribadian MBTI yang terbilang langka.
  • INFP – The Mediator: Idealis dan memiliki rasa keadilan tinggi, cenderung ingin berusaha menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih baik.
  • INTJ – The Architect: Sangat logis, kreatif, dan analitis.
  • INTP – The Thinker: Pendiam dan introvert, memiliki dunia mereka sendiri.
  • ESTP – The Persuader: Mudah berteman, senang bergaul, dan juga dramatis, lebih fokus pada apa yang ada di depan mata mereka saat ini.
  • ESTJ – The Director: Tegas dan sangat berorientasi pada aturan, memiliki prinsip-prinsip yang kuat dan cenderung senang mengatur atau memimpin.
  • ESFP – The Performer: Senang bergaul dan spontan, senang menjadi pusat perhatian.
  • ESFJ – The Caregiver: Ramah dan baik hati, cenderung percaya ada kebaikan dari diri setiap masing-masing orang.
  • ENFP – The Champion: Karismatik dan penuh energi, menyukai situasi yang membuat mereka bisa menyalurkan kreatifitas.
  • ENFJ – The Giver: Setia and sensitif, sangat murah hati dan memiliki rasa pengertian yang tinggi.
  • ENTP – The Debater: Senang menyusun ide-ide dan mendapatkan inspirasi dari ide-ide di sekitar serta memulai suatu proyek baru, namun sering kesulitan menyelesaikannya.
  • ENTJ – The Commander: Memiliki percaya diri tinggi dan cenderung berbicara apa adanya dan blak-blakan, ahli dalam menyusun rencana dan mengatur proyek.
BACA JUGA:  Apa Itu 501 ? Definisi dan Penjelasannya

Kritik Terhadap MBTI

Meskipun MBTI merupakan tes kepribadian yang sangat populer, namun banyak pihak, terutama dari kalangan akademisi, yang meragukan keakuratan dari MBTI dan menggolongkannya ke dalam pseudo-sains, alias ilmu sains yang tidak teruji secara ilmiah.

MBTI sendiri menjadi populer karena dianggap memiliki keluasan dalam hal spektrum dan skala kepribadian, yang dianggap bisa menjabarkan kompleksitas kepribadian secara rinci.

Namun, banyak pihak yang menganggap MBTI merupakan fenomena yang sejenis dengan zodiak alias astrologi, yang juga bisa menggambarkan kepribadian seseorang secara detail dan menyeluruh.

Menurut pakar psikologi Ronald Riggio dan Henry R Kravis, sama seperti zodiak, hasil tes MBTI cenderung generik, sehingga bisa menimbulkan apa yang dikenal sebagai Barnum Effect, dimana tendensi seseorang untuk mempercayai deskripsi ambigu sebagai sesuatu yang ditulis secara spesifik untuk diri mereka cenderung tinggi.

Beberapa pakar lainnya seperti Jaime Derringer, psikolog dari University of Illinois, mengatakan bahwa kepribadian itu sangatlah kompleks dan sangat mungkin ada lebih dari enambelas tipe kepribadian di luar dari yang dikategorikan dalam MBTI.

Beberapa penelitian dikabarkan juga menunjukkan bahwa pada tes MBTI yang diambil ulang hanya dalam jeda waktu sebulan, ternyata menunjukkan hasil yang jauh berbeda dari sebelumnya, yang menjadikan validitas tes kepribadian MBTI semakin diragukan keakuratannya.

Namun, di luar banyaknya kritik terhadap MBTI, ada juga yang menyatakan dukungan terhadap tes kepribadian tersebut.

Misalnya pada artikel yang diterbitkan oleh situs Psychology Today pada tahun 2020, Aqualus M Gordon Ph.D. selaku penulis artikel memberikan alasan mengapa MBTI tidak bisa dikesampingkan sepenuhnya. Gordon menyimpulkan bahwa, meskipun MBTI tidak sepenuhnya bisa dibuktikan secara sains, namun setidaknya MBTI bisa menjadi landasan bagi seseorang untuk semakin mengenali dan memahami diri mereka sendiri, baik itu kelebihan maupun kekurangan yang mereka miliki, dan hal tersebut memiliki validitasnya sendiri.

Sementara pada artikel yang diterbitkan oleh situs Psycom, meskipun mereka juga tidak mempercayai MBTI, mereka menyimpulkan bahwa hasil tes MBTI bisa dijadikan titik awal bagi seseorang untuk lebih mengeksplorasi diri mereka sendiri dan membuka percakapan, serta membuka mata seseorang tentang bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain.

Kritik Lainnya

  1. Pittenger, D. J. (1993). The utility of the Myers-Briggs type indicator: Dalam artikel ini, Pittenger mencatat bahwa sebanyak 50% partisipan mendapatkan jenis kepribadian yang berbeda ketika mengambil tes ulang setelah lima minggu, menunjukkan bahwa MBTI mungkin tidak reliabel.
  2. Boyle, G. J. (1995). Myers-Briggs Type Indicator (MBTI): Some psychometric limitations: Boyle menunjukkan bahwa MBTI mungkin memiliki batasan psikometrik, termasuk kegagalan untuk memenuhi standar statistik untuk “keandalan tes-retest”, yang berarti hasilnya mungkin tidak konsisten sepanjang waktu.
  3. Bess, T. L., & Harvey, R. J. (2002). Bimodal score distributions and the MBTI: Fact or artifact?: Bess dan Harvey menunjukkan bahwa distribusi skor MBTI seringkali bimodal, yang berarti banyak orang menerima skor yang berada di kedua ujung spektrum, dengan sedikit di antaranya. Ini menunjukkan bahwa MBTI mungkin tidak menggambarkan secara akurat kompleksitas kepribadian manusia.
  4. McCrae, R. R., & Costa, P. T. (1989). Reinterpreting the Myers-Briggs type indicator from the perspective of the five-factor model of personality: McCrae dan Costa menunjukkan bahwa MBTI mungkin tidak lengkap sebagai alat pengukuran kepribadian. Mereka mencatat bahwa ada lima faktor kepribadian utama (neuroticism, extraversion, openness, agreeableness, dan conscientiousness), dan MBTI mungkin tidak sepenuhnya menangkap semua ini.
Scroll to Top