Site icon Asaljeplak.my.id

Bagaimana Menghadapi Anak yang Takut Akan Kematian Akibat COVID-19

Bagaimana Menghadapi Anak yang Takut Akan Kematian Akibat COVID-19

Bagaimana Menghadapi Anak yang Takut Akan Kematian Akibat COVID-19

Berikut ini adalah Bagaimana Menghadapi Anak yang Takut Akan Kematian Akibat COVID-19 yang diharapkan bisa berguna, dapat dipraktekkan, serta menambah informasi yang diperlukan mengenai hal tersebut.

Foto: Sol Stock | Getty Images

Sulit untuk mengetahui bagaimana merespons ketika anak Anda bertanya mengenai kematian atau bertanya pada Anda sebagai orang tua apakah Anda akan meninggal. Naluri awal Anda mungkin akan memberikan kata-kata yang meyakinkan seperti, “Tidak, sayang. Mama atau papa tidak akan meninggal.” 

Namun tahukah Anda bahwa kalimat tersebut bukan kata-kata yang harus Anda ucapkan pada anak-anak karena bagaimanapun kematian tidak bisa dihindari dan sebenarnya adalah bahwa setiap manusia akan meninggal suatu hari nanti. 
Meskipun begitu bukan berarti Anda perlu menanamkan rasa takut atau memicu kepanikan mereka. Gunakan pendekatan dan kalimat yang dapat mereka mengerti untuk menjelaskannya.

Jika anak Anda mulai menyatakan ketakutan akan kematian, terutama sebagai respons terhadap pandemi coronavirus, cara Anda merespons dapat membuat perbedaan besar. Merespons dengan cara yang benar dapat membantu mereka merasa lebih baik dan meningkatkan pemahaman mereka tentang lingkaran kehidupan.

Berikut Adalah 5 cara yang bisa Anda lakukan untuk memberikan pemahaman mengenai kematian pada Anak Anda:

 

1. Cari Tahu Apa Pemahaman Anak Anda Mengenai Kematian

Tergantung dari usianya, Namun anak dibawah umur 7 tahun biasanya belum memahami makna dari kematian itu sendiri seperti halnya anak yang lebih tua atau Anda sebagai orang dewasa.
Anak-anak biasanya takut akan hal-hal mengenai kematian tanpa sepenuhnya mengerti soal itu; misalnya jika ada anggota keluarga yang meninggal, rasa penasaran atau takut Anak anda mungkin lebih karena kenapa seseorang dikubur, apakah rasanya dikubur, dan lain sebagainya.

Umum juga ditemukan ketika kita memberitahu bahwa seseorang meninggal, maka mereka merasa hal tersebut bukanlah hal yang terjadi secara permanen, mungkin konsepnya sama ketika ada seseorang yang berangkat kerja atau pergi liburan; dimana nanti pasti akan datang kembali.

Anda dapat menjelaskan konsep ini secara perlahan dan seiring waktu, Namun biasanya anak berumur sekitar 7-10 tahun telah dapat memahami konsep kematian itu sendiri.

2. Tidak Perlu Menggunakan Bahasa Tingkat Tinggi

Anak-anak kecil suka mempertanyakan hal-hal yang terkadang sulit untuk dijawab oleh orang tua, Namun lupakan penjelasan panjang lebar dan teknikal yang mungkin belum bisa dimengerti oleh otak anak Anda.

Misalnya jika mereka bertanya mengapa orang yang telah meninggal tidak bisa membuka mata, atau tidak bisa berbicara, atau tidak bisa menggerakkan tubuh, mungkin Anda bisa mengatakan bahwa tubuh manusia bekerja seperti mesin yang lama kelamaan bisa berhenti berfungsi, atau jawaban simpel lainnya.

Meskipun begitu ingat untuk tidak memberikan jawaban yang tidak masuk akal. Anda hanya perlu mencari padanan dan contoh yang pas untuk memberikan penjelasan yang dapat dimengerti oleh otak anak-anak.

3. Gunakan Bahasa yang Benar

Ketika kita dihadapi dengan kematian anggota keluarga dekat, dan anak Anda bertanya apa yang terjadi, jangan pernah menjawab dengan menggunakan kata-kata yang bukan sebenarnya. 

“Nenek sedang tidur.”, atau “Kita kehilangan nenek.”, atau “Nenek telah tidak bersama kita lagi.” adalah contoh kata yang rancu untuk menggambarkan bahwa seseorang telah meninggal.

Hal tersebut perlu dihindari karena ketika mereka sadar bahwa misalnya ‘Nenek’ tidak bangun lagi saat tidur, mereka akan jadi tidak mau tidur karena takut tidak akan bangun-bangun lagi.
 

4. Bicarakan dari Sisi Agama

Pada saat membicarakan soal kematian, Anda juga bisa untuk mulai memberikan pemahaman dari sisi Agama, dan konsep mengenai ‘kehidupan’ kita setelah meninggal dunia, sekaligus mengajari apa yang dapat kita lakukan semasa hidup untuk bisa mencapai ‘kehidupan’ setelah kematian.
 

5. Pahami Perasaan Anak Anda

Jangan mengecilkan kekhawatiran anak Anda, dan usahakan untuk tidak memberi jawaban yang ‘gampang’ hanya untuk sekedar biar anak Anda diam. Katakan bahwa Anda mengerti rasa khawatir dan ketakutannya, dan berikan sedikit penjelasan atau pertanyaan mengenai hal yang mereka takutkan.

 

Selain kelima hal di atas, Anda juga perlu untuk selalu menanamkan pada anak Anda untuk harus selalu positif dalam menjalani hidup, fokus pada kesehatan dan keselamatan terutama di masa pandemik seperti saat ini.

Ada baiknya juga Anda membatasi tayangan mengenai berita kematian selama masa pandemik ini supaya anak Anda tidak merasa takut dan stres.

Exit mobile version