Wall Street Dibuka Variatif Sambut Data Pengangguran

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Kamis (18/3/2021), menyusul tekanan yang menimpa harga saham-saham teknologi menyusul kenaikan lagi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan memburuknya angka pengangguran.

Dow Jones Industrial Average dibuka menguat 95,6 poin (+0,29%) pada pembukaan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan selang 15 menit menjadi 111,3 poin (+0,34%) ke 33.126,63. S&P 500 drop 184,8 poin (-1,37%) ke turun 13.340,41 dan Nasdaq tertekan 18,4 poin (-0,46%) ke 3.955,7.

Hal ini terjadi setelah yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali lompat 11 basis poin menjadi 1,75%, menjadi yang tertinggi sejak Januari 2020 setelah Rapat Komite Terbuka Federal (Federal Open Committee Meeting/FOMC).

Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun naik 6 basis poin dan menembus 2,5% atau pertama kali sejak Agustus 2019. Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emiten teknologi yang secara natural rajin menerbitkan obligasi menghadapi kenaikan beban.

Saham Apple, Alphabet, Microsoft dan Facebook anjlok setidaknya 1% di pembukaan, mengekor Tesla yang drop lebih dari 3%. Namun, saham bank menguat karena margin mereka berpeluang naik. JPMorgan naik 2% dan Goldman Sachs lompat 1,9%.

Di tengah situasi demikian, klaim awal tunjangan pengangguran pekan lalu ternyata berbalik dari ekspektasi. Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan akan ada 700.000 klaim permulaan pekan lalu, turun dari 712.000 sepekan sebelum itu. Namun faktanya, ada 770.000 penganggur baru.

Namun kabar bagus muncul dari rilis data indeks manufaktur Federal Reserve Philadelphia yang menunjukkan angka 51,8, atau jauh melampaui konsensus yang dikompilasi Dow Jones sebesar 22 sehingga menyentuh level tertingginya sejak 1973.

READ  Banyak yang Terbuang, Aksi Penjual Nasi Goreng Ini Bikin Geleng Kepala

Pada Rabu, Dow Jones ditutup menembus level psikologis baru 33.000 setelah The Fed menyatakan tak akan menaikkan suku bunga acuan ataupun mengurangi pembelian obligasi di pasar setidaknya sampai 2023, hingga pasar tenaga kerja dan ekonomi membaik.

“Hasil FOMC sama seperti pandangan pasar bahwa pertumbuhan dan inflasi kemungkinan berbalik menguat karena aktivitas mulai meningkat pada 2021, tapi tak memberikan pandangan bahwa kenaikan aktivitas itu bakal tahan lama,” tutur Eric Winograd, ekonom senior AB, sebagaimana dikutip CNBC International.

The Fed memperkirakan ekonomi Negara Adidaya bakal melesat 6,5% pada 2021, sebelum mereda dalam beberapa tahun kemudian, sementara inflasi bisa menyentuh 2,2% tahun ini, sebagaimana terlihat dari belanja konsumsi personal.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

All England 2021: BWF Juga Tarik Mundur Pemain Turki Neslihan Yigit

Read Next

Drummer asal Bengkulu rebut perhatian Mike Portnoy “Dream Theater”

Tinggalkan Balasan