Terkuak, BRI & BNI Bisa Jadi Pengendali BRIS Pascamerger

Jakarta, CNBC Indonesia – Manajemen PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) menyatakan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bisa menjadi pemegang saham pengendali perseroan pascamerger tiga bank syariah BUMN.

Saat ini BRIS, sebagai penerima merger (survivor entity), dalam proses penggabungan dengan dua bank syariah BUMN lain yaitu PT Bank BNI Syariah dan PT Bank Syariah Mandiri. Target selesai merger dipatok pada Februari 2021.

Corporate Secretary BRISyariah Mulyatno Rachmanto mengatakan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memang menjadi menjadi pengendali.

Pengendali yang dimaksud oleh BRIS yakni pengendali sebagaimana dimaksud dalam Peraturan OJK Nomor 9/POJK.04/2018 tentang Pengambialihan Perusahaan Terbuka di mana Pengendali Perusahaan Terbuka adalah pihak yang baik langsung maupun tak langsung memiliki saham perusahaan terbuka lebih dari 50% dari seluruh saham, dengan hak suara yang telah disetor penuh.

Atau, mempunyai kemampuan untuk menentukan, baik langsung maupun tidak langsung dengan cara apapun pengelolaan dan atau kebijakan perusahaan terbuka, dalam hal ini yang menjadi pengendali adalah Bank Mandiri atas BRIS.

“Namun demikian, Bank Negara Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia dapat juga diketegorikan sebagai pemegang saham pengendali,” katanya dalam jawaban atas pertanyaan Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (18/11/2020).

Pemegang saham pengendali yang dimaksud dalam konteks ini BNI dan BRI ini, menurut dia, berdasarkan Peraturan OJK Nomor 39/POJK.03/2017, tentang Kepemilikan Tunggal pada Perbankan Indonesia, karena merupakan pihak yang memiliki saham sebesar 25% atau kurang dari 25%, namun dapat dibuktikan dapat melakukan pengendalian langsung maupun tidak langsung kepada bank.

“Meskipun demikian, hal ini bergantung pada persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan,” katanya.

Dia menegaskan, adapun PT BNI LIfe Insurance dan PT Mandiri Sekuritas tidak memenuhi persyaratan POJK 9 dan POJK 39, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai pengendali.

Sebagai informasi, Bank Mandiri menjadi pemegang saham mayoritas dari Bank BRISyariah, sebagai bank hasil penggabungan (surviving entity) dengan kepemilikan sebesar 51%.

Komposisi pemegang saham pada lainnya di BRIS adalah Bank Negara Indonesia 25,0%, BRI 17,4%, DPLK BRI – Saham Syariah 2% dan publik 4,4%.

Dalam surat tersebut, BEI juga mempertanyakan siap pemegang manfaat terakhir atau ultimate beneficial owner (UBO) dari DPLK BRI-Saham Syariah.

Mulyatno menjelaskan UBO dari DPLK-BRI-Saham Syariah adalah peesrta DPLK sesuai pilihan investasinya.

“Oleh karena itu kami melihat bahwa jumlah saham perseroan yang dimiliki oleh pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama setelah penggabungan akan berjumlah sekitar 6,4% berdasarkan susunan pemegang saham terakhir per 30 September 2020,” jelasnya.

Sebagai perbandingan, per Juni 2020, saham BRIS dipegang publik sebesar 18,34%, sementara BBRI 73%, dan 8,6% dipegang DPLK BRI.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Jadi Tumpuan Indonesia di Olimpiade, Anthony Ginting Tak Tertekan

Read Next

Sineas Indonesia optimistis industri perfilman membaik di 2021

Tinggalkan Balasan