Tembus Rp 14.040/US$, BI Biarkan Rupiah Lanjut Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah terus melanjutkan penguatannya melawan dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini didorong oleh meningkatnya pasokan valas dari investor asing yang melanjutkan akumulasi pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Pada Selasa (10/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.040/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0,07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin. Sebelumnya rupiah menguat 0,53% ke Rp 13.975/US$.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan, masuknya kembali investor asing sejalan dengan sentimen positif dari hasil Pemilu AS yang memenangkan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46.

Kebijakan-kebijakan Biden ke depan diperkirakan akan lebih memberikan kepastian dan lebih bersahabat ke China, sehingga akan mengurangi tensi konflik dagang keduanya.


Gedung BIFoto: CNBC Indonesia [Bank Indonesia]

“Bila konflik hubungan dagang AS-China berkurang maka akan mempercepat pemulihan ekonomi China, sehingga dampaknya akan dirasakan oleh negara Asia lainnya. China adalah salah satu tujuan ekspor Indonesia, maka bila ekonomi China cepat pulih, akan lebih mendongkrak ekspor Indonesia,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/11/2020).

Sebagaimana diketahui, perang dagang AS-China sejak 2018 telah mengakibatkan ketidakpastian yang luar biasa sehingga terus menimbulkan gejolak dan tekanan pada seluruh mata uang Emerging Market termasuk Rupiah.

Kondisi tersebut dinilai dapat berbalik, apalagi bila melihat rencana the Fed yang diperkirakan akan terus menempuh quantitative easing (QE) akan membuat likuiditas dollar membanjiri pasar keuangan global dan merembes ke negara berkembang.

Nanang juga melihat, komitmen the Fed yang akan terus melakukan pembelian obligasi pemerintah AS sebesar US$ 120 miliar per bulan, akan membuat likuiditas dollar semakin melimpah di pasar.

Ditambah lagi, apabila stimulus fiskal AS sebesar US$ 2,2 triliun bergulir di masa pemerintahan Biden yang akan membuat likuiditas semakin berlimpah. Kondisi likuiditas dollar yang melimpah karena ekspansi moneter dan fiskal AS dalam beberapa tahun ke depan dinilai akan menyebabkan DXY atau Index dollar terus turun.

“Bank Indonesia melihat ruang bagi Rupiah untuk terus menguat masih lebar, karena Rupiah secara real masih undervalued atau masih terlalu murah dari perspektif neraca transaksi berjalan, selisih inflasi, serta selisih suku bunga Rupiah dan Valuta Asing,” kata dia.

[Gambas:Video CNBC]

(dru)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Pengurus Baru PBSI Punya PR Tingkatkan Prestasi di Tiga Sektor Ini

Read Next

Ratusan alat musik tradisional nusantara dipamerkan di Ambon

Tinggalkan Balasan