Sikap Investor Beragam Lagi, Yield SBN Bergerak Mixed

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) beragam pada perdagangan Senin (7/6/2021), di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) karena investor terus mencerna data laporan pekerjaan AS terbaru.

Sikap investor di SBN cenderung beragam, di mana pada SBN bertenor 1 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 30 tahun ramai dikoleksi oleh investor dan mengalami penguatan harga serta imbal hasilnya (yield) mengalami penurunan. Sedangkan sisanya yakni SBN berjatuh tempo 3 tahun, 5 tahun, dan 25 tahun cenderung dilepas oleh investor dan mengalami pelemahan harga, ditandai dengan kenaikan yield.

Yield SBN bertenor 3 tahun dengan kode FR0039 naik 0,1 basis poin (bp) ke level 4,826%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 5 tahun dengan seri FR0081 juga naik 0,2 bp ke posisi 5,388%, dan yield SBN dengan jatuh tempo 25 tahun dengan seri FR0067 naik 2 bp ke level 7,526%.

Sementara untuk yield SBN dengan tenor 20 tahun berseri FR0083 cenderung stagnan di level 7,066%. Adapun untuk yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara kembali turun sebesar 0,1 bp ke posisi 6,439% pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Dari AS, yield obligasi pemerintah (Treasury) acuan terpantau bergerak naik pada Senin dini hari waktu AS, di mana investor masih mencerna data laporan pekerjaan AS baru sembari menanti rilis data inflasi AS pada periode Mei 2021 yang akan dirilis pada Kamis (10/6/2021) waktu AS.

Mengutip data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik 2 bp ke level 1,579% pada dini hari waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Jumat (4/6/2021) lalu sebesar 1,559%.

READ  Jaksa Tuntut Rizieq 6 Tahun Penjara, Pengacara: Maling Lebih Dihargai daripada Ulama!

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen membahas prospek ekonomi pada Minggu (6/6/2021) kemarin.

Ia seakan menggembor-gemborkan proposal pengeluaran senilai US$ 4 triliun dari Presiden Joe Biden sebagai sesuatu yang akan baik untuk AS, bahkan jika itu menciptakan kenaikan inflasi. Dia juga mengatakan bahwa suku bunga yang lebih tinggi akan bermanfaat bagi negara.

Tarik menarik anggota parlemen Washington atas paket belanja infrastruktur terus menjadi fokus. Demokrat pada Rabu (9/6/2021) mendatang akan mulai mempersiapkan RUU infrastruktur untuk pemungutan suara di DPR, dengan atau tanpa dukungan Partai Republik.

Presiden Joe Biden sekali lagi akan membahas kemungkinan kesepakatan dengan para pemimpin Partai Republik pada hari ini, setelah menolak tawaran RUU terbaru GOP untuk paket pengeluaran $928 miliar pada hari Jumat. Proposal pengeluaran terbaru Biden mencapai US$1,7 triliun.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang bulan Mei terjadi penambahan tenaga kerja di luar sektor pertanian sebanyak 559.000 orang, di bawah estimasi survei Dow Jones terhadap para ekonom yakni 671.000 orang. Sementara tingkat pengangguran turun menjadi 5,8% dari sebelumnya 6,1%.

Meski data tenaga kerja AS cukup solid, tetapi banyak analis yakin data tersebut masih belum cukup membuat bank sentral AS (The Fed) untuk mengurangi nilai program pembelian asetnya (quantitative easing/QE) atau yang dikenal dengan istilah tapering.

Presiden The Fed wilayah Cleveland, Lorreta Mester, juga menyatakan data tenaga kerja AS bagus tetapi masih belum cukup untuk merubah kebijakan moneter.

“Saya melihat ini sebagai kemajuan yang terus dibuat pasar tenaga kerja, tentunya kabar yang sangat bagus. Tetapi, saya ini melihat kemajuan lebih jauh,” kata Mester dalam acara “Squawk on the Street” CNBC International, Jumat (4/6/2021) lalu.

READ  Trump & CDC Tak Kompak Soal Vaksin, Wall Street Merah, IHSG?

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Final IBL 2021: Eksekusi Jadi Pembeda Pelita Jaya dengan Satria Muda

Read Next

KPI siapkan sanksi denda untuk siaran tak sesuai regulasi

Tinggalkan Balasan