Sentimen-Sentimen Ini Bisa ‘Acak-Acak’ Pasar Pekan Depan!

Asaljeplak.my.id –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sepekan ini tertekan parah, hingga 3,06%, pada level 6.011,45. Untuk sepekan ke depan, waspadai risiko kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Sepanjang pekan depan, tidak banyak sentimen positif yang menyerbu pasar global. Beberapa data ekonomi dari AS kemungkinan justru mengonfirmasi bahwa inflasi akan menguat sehingga menekan harga Surat Berharga Negara (SBN) di AS, dan bursa di Indonesia.

Sentimen pertama yang harus dipantau adalah Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Mangers’Index/PMI) sektor jasa per Maret di AS versi Institute for Supply Management (ISM) yang bakal dirilis pada Senin. Konsensus Tradingeconomics memperkirakan angka 60, yang mengindikasikan ekspansi.

Pada Selasa China menyusul dengan rilis indeks PMI sektor jasa per Maret versi Caixin. Menurut proyeksi Tradingeconomics, aktivitas jasa per Maret di Negeri Tirai Bambu tersebut masih bakal ekspansif di angka 52,7 atau naik dari posisi sebulan sebelumnya sebesar 51,5.

Angka PMI di atas 50 mengindikasikan ekspansi, sedangkan di bawah itu mengindikasikan kontraksi. Jika ekspansi tersebut terkonfirmasi, bursa global akan ceria dan IHSG pun berpeluang mengawali pekan di jalur hijau.

Rekam jejak kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) perlu mendapatkan perhatian kedua dari pelaku pasar. Lembaga yang dinakhodai Jerome Powell tersebut akan merilis risalah rapat (minutes meeting) pada Rabu yang bakal blak-blakan membuka latar-belakang pengambilan kebijakan moneter mereka pada Maret.

Investor bakal memantau komentar dan nada sikap pejabat The Fed mengenai arah inflasi. Dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di AS dan harga komoditas utama dunia lainnya, investor memandang stimulus US$ 1,9 triliun dan program infrastruktur Presiden AS Joe Biden senilai US$ 2 triliun menjadi bensin bagi lonjakan inflasi.

READ  Sony tarik "Cyberpunk 2077" dari PlayStation Store

Di tengah kondisi demikian, waspadai saham-saham yang sensitif pada pelemahan rupiah, karena kenaikan inflasi AS bakal memicu lonjakan imbal hasil US Treasury yang sebulan terakhir telah memicu pembalikan modal (capital outflow) dari pasar modal nasional.

Seburuk Apa Capital Outflow Gerus Cadev?

Sentimen ketiga bakal muncul dari dalam negeri berupa rilis cadangan devisa (cadev) Maret oleh Bank Indonesia pada Rabu. China juga akan menyusul merilis cadangan devisanya pada sore harinya di hari yang sama. Indonesia mencetak rekor tertinggi cadev dalam dua bulan lalu.

Per Februari, cadangan devisa nasional tercatat naik US$ 800 juta menjadi US$ 138,8 miliar. Saat itu, tekanan baru mendera rupiah pada pekan keempat dengan capital outflow sebesar Rp 18,3 triliun menyusul kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Antisipasi kemungkinan cadev menyusut karena terpakai untuk mengintervensi nilai tukar rupiah.

Sentimen keempat bakal kembali berhulu dari luar negeri, di mana bos bank sentral AS Jerome Powell dijadwalkan hadir di panel diskusi yang digelar Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) pada Kamis.

Pasar perlu memantau apakah ada pernyataan The Fed yang menyinggung mengenai valuasi pasar yang terus meninggi, dan juga kestabilan keuangan global akibat kebijakannya yang nekad mempertahankan suku bunga sekalipun inflasi AS melebihi angka 2%.

Pada hari yang sama, klaim tunjangan pengangguran AS akan dirilis untuk periode pekan lalu. Rilis data tenaga kerja Jumat lalu menunjukkan ada 916.000 pekerja baru yang mendapatkan slip gaji pada Maret, atau jauh lebih baik dari ekspektasi ekonom sebanyak 675.000 slip gaji.

Sentimen kelima muncul dari dalam negeri, dengan Laporan Survei Konsumen atau rilis Indeks Penjualan Ritel Indonesia per Maret pada Jumat. Penjualan ritel nasional menurut proyeksi Tradingeconomics masih bakal tertekan sebesar 11%, setelah bulan sebelumnya pada Februari anjlok 16,4%.

READ  Gempa Turki Sebabkan Tsunami, Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban

Dari AS, pada akhir pekan akan dirilis indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) yang menunjukkan rerata perubahan harga jual atas produk manufaktur mereka di pasar AS. kenaikan harga mengindikasikan bahwa permintaan sudah pulih.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Menang WO, Ashleigh Barty Pertahankan Gelar Miami Open

Read Next

SHINee ungkap lagu baru “Atlantis” di konser daring perdana

Tinggalkan Balasan