Sempat Jadi Member ARB Club, Saham BUMN Ini Kasih Cuan Tebal!

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat kencang di dua minggu pertama bulan Januari.

Saking cepatnya meroket kapitalisasi pasar IHSG sempat naik 7,63% dibanding bulan sebelumnya. Namun memasuki 10 hari terakhir perdagangan di bulan Januari, IHSG tak kuat lagi berlari.

IHSG goyang dan harus menerima nasib nahas. Seluruh capital gain yang diperoleh selama hampir tiga pekan sebelumnya rontok. IHSG pun ambruk 1,95% di bulan pertama tahun ini. Manisnya fenomena January Effect tak bisa dirasakan untuk tahun ini.

Namun sebenarnya koreksi yang terjadi adalah koreksi sehat lantaran IHSG sudah overheat. Memasuki minggu pertama bulan Februari, IHSG kembali berlari kencang. Dalam satu minggu terakhir IHSG ditutup menguat 4,9% dan kembali mencicipi level 6.150.

Saham-saham yang sebelumnya ambruk di bulan Januari mulai bangkit. Adalima saham dengan volume transaksi yang cukup tinggi melesat di pekan ini. Cuan yang diperoleh dari apresiasi harga saham-saham ini mencapai lebih dari 10%.

Dari lima saham dengan lonjakan harga tertinggi, empat di antaranya adalah emiten pelat merah. Mereka adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). 

Kenaikan saham BUMN yang tinggi ini menyusul ambrolnya saham-saham primadona di kalangan pelaku pasar yang terjadi di pekan terakhir Januari. Maklum, kala itu saham-saham BUMN sering menjadi konstituen auto reject bawah (ARB) club yang berarti harganya turun 7% dalam sehari. 

Selain saham BUMN tersebut ada saham non-BUMN yang memimpin top gainers pekan ini. Adalah saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melesat 31,64% pekan ini. Senasib dengan saham-saham BUMN, emiten milik orang terkaya ketiga di RI ini (Prajogo Pangestu) sebelumnya melorot hingga 13,24%. 

READ  Jelang Akhir Pekan, IHSG Diprediksi Terus Bergerak Menguat

Dengan demikian, jelas terlihat bahwa faktor teknikal dan psikologi pasar lah yang bermain dalam mendongkrak harga saham-saham ini.


Di minggu ini para pelaku pasar menyoroti dua hal. Pertama adalah penguatan dolar AS. Indeks dolar yang mengukur posisi greenback terhadap mata uang lain mengalami tren kenaikan.

Penguatan mata uang Paman Sam tentu saja membuat aset-aset yang berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik sehingga bisa memicu terjadinya aliran dana keluar (outflow) dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Namun outflow asing yang relatif kecil dibanding nilai transaksi rata-rata harian dan basis investor ritel yang semakin berjamur di Indonesia menjadi salah satu faktor yang menahan IHSG dari koreksi tajam. Toh sebelumnya IHSG sudah berdarah-darah. Saatnya IHSG untuk kembali berpesta.

Selain tren penguatan dolar AS, pelaku pasar juga mencermati angka keramat yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik di akhir pekan kemarin. Adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang dinantikan banyak pihak.

Di sepanjang tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia menyusut 2,07%. Ini menjadi kali pertama ekonomi Indonesia jatuh ke jurang resesi sejak krisis moneter tahun 1998. Namun dengan angka tersebut, pasar tidak terlalu bergejolak di hari terakhir perdagangan.

Kontraksi perekonomian Indonesia di tahun lalu sudah diperhitungkan banyak pihak. Bahkan Bank Dunia mengestimasi perekonomian RI bakal menyusut 2,2% tahun ini. Namun untungnya masih lebih baik. Pasar pun tidak terlalu reaktif. IHSG juga mampu melenggang ke zona hijau saat finish.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Kondisi Lengan Marc Marquez Pasca Operasi Ketiga Bikin Ngeri

Read Next

Kemarin, Christopher Plummer meninggal hingga “Wonderful Indonesia”

Tinggalkan Balasan