Saat Massa Trump Rusuh, kok Bursa Wall Street AS Tetap Rekor?

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Wall Street AS mengabaikan hari yang mengejutkan dalam sejarah politik Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/1/2021) ketika massa pendukung Presiden AS saat ini Donald Trump menyerbu Capitol Hill secara anarkis untuk mengganggu jalannya penghitungan pemilihan Kongres AS.

Capitol Hill merupakan pusat pemerintahan AS, lokasi berdirinya Gedung Capitol, Senat, DPR, dan Mahkamah Agung AS.

Namun aksi massa ini ternyata tidak berdampak besar pada perdagangan saham di New York Stock Exchange (NYSE) dan bursa Nasdaq yang bisa disebut Wall Street.

Data perdagangan mencatat, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) justru melesat 1,44% di posisi 30.829 level tertinggi sepanjang masa, Indeks S&P naik 0,57% di 3.748, dan Indeks Nasdaq minus tipis 0,61% di posisi 12.740, pada Rabu kemarin waktu AS (Kamis pagi waktu Indonesia).

Jadi mengapa Wall Street mencapai level baru baru bahkan ketika Presiden Trump melipatgandakan klaim palsunya bahwa hasil pemilu AS yang menyatakan Joe Biden menang itu curang dan ribuan pendukungnya membobol gedung-gedung pemerintah.

“Sederhananya, investor tidak benar-benar melihat apa yang terjadi saat ini. Mereka melihat ke masa depan dan apa yang bisa dihasilkannya bagi perusahaan tempat mereka berinvestasi, atau ekonomi AS secara keseluruhan,” tulis opini CNN Business, yang ditulis dua jurnalis ekonominya, Anneken Tappe and David Goldman, dikutip Kamis (7/1/2021).

Menurut CNN, Senat AS berbalik mendukung Partai Demokrat sehingga membuka jalan bagi agenda ekonomi Presiden terpilih Joe Biden dan kemungkinan lebih banyak stimulus ekonomi digelontorkan untuk membantu AS pulih dari pandemi.

“Meskipun kontrol Demokrat terhadap DPR, Senat, dan Gedung Putih dapat menyebabkan kenaikan pajak di masa depan, tapi investor memilih melihat sisi baiknya, yakni lebih banyak bantuan pemerintah selama krisis ini,” kata mereka.

READ  Dibuka di Zona Hijau, Penguatan Dow Jones Cenderung Surut

Selain itu, Biden juga menjanjikan investasi ekstensif dalam infrastruktur dan energi bersih, semuanya bertujuan untuk menciptakan jutaan lapangan kerja.

Tentunya, ini dinilai akan membantu meningkatkan saham di sektor industri dan bahan material.


Demonstrators break TV equipment outside the the U.S. Capitol on Wednesday, Jan. 6, 2021, in Washington. (AP Photo/Jose Luis Magana)Foto: AP/Jose Luis Magana
Demonstrators break TV equipment outside the the U.S. Capitol on Wednesday, Jan. 6, 2021, in Washington. (AP Photo/Jose Luis Magana)

“Bank dan perusahaan keuangan juga naik lebih tinggi di tengah prospek suku bunga yang lebih tinggi di masa depan, yang berarti keuntungan yang lebih besar pada bisnis penyaluran kredit mereka. Tapi perusahaan teknologi, yang menghadapi adanya lebih banyak regulasi dan pengawasan, berpotensi tertekan,” tulis mereka.

“Jadi itulah mengapa, meskipun terjadi kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Capitol, Wall Street tetap optimistis.”

CNN juga menilai, meski ada pandemi yang sedang berlangsung, dan jumlah infeksi yang memburuk telah menyebabkan peraturan yang lebih ketat di berbagai negara bagian, tetapi sekali lagi, investor kemungkinan besar akan berfikir jangka panjang.

“Pemerintahan berikutnya [Biden] diharapkan menepati janjinya untuk bertindak tegas untuk membantu bisnis dan pekerja Amerika.”

Ed Keon, Kepala Strategi Pasar di QMA, juga menilai pelaku pasar masih melihat keyakinan pada pemerintahan baru di bawah Joe Biden.

Sebagai informasi, Kongres AS juga secara resmi mengonfirmasi terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Negeri Paman Sam pada Kamis (7/1/2021) pagi waktu setempat. Penetapan itu hadir selepas massa menyerbu Capitol Hill pada Rabu (6/1/2021) malam waktu setempat.

Seperti ditulis CNBC Indonesia, Biden dan pasangannya, wakil presiden terpilih Kamala Harris, meraih 306 electoral college. Raihan itu lebih banyak 36 ketimbang batas yang dibutuhkan untuk melenggang ke Gedung Putih. Sementara itu, pasangan Trump dan Mike Pence hanya mengumpulkan 232 electoral college.

“Pasar yakin bisa hidup dengan pemerintahan Biden dan kontrol Demokrat dari Kongres,” kata Ed Keon, dikutip CNBC.

Memang ada sisi negatif di mana kebijakan Biden akan mengerek pajak lebih tinggi, tapi ini akan diimbangi dengan belanja infrastruktur yang lebih gencar.

“Negatif dari pajak yang lebih tinggi, yang disimpulkan pasar akan diimbangi oleh belanja infrastruktur dan tindakan yang lebih agresif terhadap pandemi dan perubahan yang mungkin tidak 100% positif untuk saham, tetapi pasar menyimpulkan itu positif.”

Saham-saham Big Tech melemah di tengah kekhawatiran bahwa Demokrat akan mengenakan pajak yang lebih tinggi dan lebih banyak peraturan pemerintah.

“Kekuatan negara adalah institusi kami dan hukum kami. Melihat ini [pajak] mengecewakan, tetapi kami akan menang dan saya pikir itulah pesan pasar,” kata Keon.

Selain itu, para analis juga melihat pelaku pasar lebih fokus pada transisi ke pemerintahan Presiden terpilih Joe Biden.

“Setiap presiden Demokrat sejak Woodrow Wilson menjalani tahun pertama mereka menjabat dengan dukungan dari DPR dan Senat Demokrat,” kata Sam Stovall, kepala strategi investasi CFRA.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Sean Gelael Hijrah ke WEC Pasca Lima Musim Mengaspal di F2

Read Next

Dewa Dayana perluas cakrawala lewat “Yang Tak Tergantikan”

Tinggalkan Balasan