Permintaan Diramal Pulih, Harga Minyak Mentah ‘Terbang’ Lagi

Jakarta, CNBC Indonesia – Ekspektasi bangkitnya perekonomian Amerika Serikat (AS) membuat harga minyak mentah melesat di pekan. Momentum kenaikan semakin besar setelah permintaan minyak mentah juga diprediksi akan pulih.

Melansir data Refinitiv, harga minyak mentah jenis Brent melesat 4,8% di pekan ini ke US$ 69,63/barel. Sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 4,31% ke US$ 66,32/barel.

“Didorong data ekonomi yang bagus serta risk appetite pelaku pasar di pasar finansial, minyak Brent kembali mendekati level psikologis US$ 70/barel,” kata Eugen Weinberg, analis di Commerzbank, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (28/5/2021).

Data dari AS menunjukkan pada pekan yang berakhir 22 Mei 2021, jumlah klaim tunjangan pengangguran turun 38.000 menjadi 406.000. Ini adalah jumlah klaim terendah sejak Maret tahun lalu. Perlahan tetapi pasti, pasar tenaga kerja AS bangkit menuju normal sebelum terhantam pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

“Ekonomi terus berlari. Ke depan, pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh keluarnya tabungan masyarakat yang menumpuk pada masa pandemi,” kata Scott Hoyt, Ekonom Senior Moody’s Analytics, seperti dikutip dari Reuters.

Ketika perekonomian AS semakin membaik, permintaan minyak mentah tentunya akan meningkat. Sebab, Negeri Paman Sam merupakan konsumen minyak mentah terbesar di dunia.

Para analis kini memperkirakan permintaan minyak mentah akan mendekati 100 barel per hari di kuartal III tahun ini. Permintaan tersebut khususnya dipicu musim panas di Eropa serta AS yang biasanya membuat warganya berpergian. Apalagi dengan program vaksinasi yang terus dilakukan, sehingga mobilitas warga kemungkinan akan mengalami peningkatan.

“Permintaan bensin saat ini sudah melewati level 2019 di beberapa area,” kata analis dari ANZ dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International.

Sebanyak 34 juta warga Amerika Serikat diperkirakan akan berpergian menggunakan kendaraan antara 27 hingga 31 Mei, yang merupakan libur akhir pekan sekaligus menandai awal musim panas.

Sementara itu, produksi minyak mentah di AS naik 14,3% menjadi 11,2 juta barel per hari pada bulan Maret lalu, berdasarkan data terbaru yang dirilis pemerintah. Meski demikian, peningkatan produksi tersebut diperkirakan akan bisa diserap oleh pasar. Bahkan masih mampu menyerap peningkatan produksi dari OPEC+, serta kemungkinan bertambahnya pasokan dari Iran jika sanksinya dicabut.

READ  Tembus Posisi Dua Liga Inggris, Solskjaer Enggan Memikirkan Soal Juara

“Balance sheet kami menunjukkan jika pasar akan mampu menyerap tambahan supply dari OPEC+, serta peningkatan pasokan dari Iran secara bertahap,” kata Warren Patterson, analis di ING, sebagaimana dilansir CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Play-off NBA: Rebut Game Ketiga, Lakers Memimpin 2-1 atas Suns

Read Next

“California”, lagu baru Rich Brian angkat kisah anak Indonesia di AS

Tinggalkan Balasan