Pasar Cenderung Borong Obligasi RI Bertenor Pendek, Kenapa?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah Indonesia sepanjang perdagangan pekan ini melemah, sebagaimana terlihat dari pergerakan imbal hasil (yield) yang rata-rata bertambah 2,6 basis poin (bp).

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun yang menjadi acuan di pasar naik 1,2 bp ke 6,761%, dari posisi akhir pekan lalu 6,749%. Imbal hasil bergerak berlawanan dari harga sehingga kenaikan yield mengindikasikan harga surat utang yang tertekan.

Secara harian, posisi imbal hasil SBN yang menjadi acuan pasar itu terhitung melemah 5,3 bp dibandingkan dengan posisi pada Rabu (6,814%). Jika dibandingkan dengan yield akhir tahun lalu yang berada di level 7,098%, imbal hasil Kamis kemarin masih lebih rendah.

Jika diperhatikan lebih detil, penguatan harga (pelemahan yield) sepanjang pekan ini terjadi pada obligasi pemerintah bertenor pendek (di bawah 5 tahun). Sebaliknya, harga obligasi berjangka waktu yang panjang kompak melemah, alias imbal hasilnya menguat.

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung memborong obligasi bertenor pendek sepanjang pekan ini, meski membagikan tingkat keuntungan lebih rendah. Mereka masih kurang percaya memegang aset pemerintah berjangka panjang di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Yield US Treasury tenor 10 tahun pada Jumat menguat kembali ke level 1,713% atau mendekati mencapai level tertingginya selama 14 bulan terakhir. Tren kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS tersebut berlangsung sejak awal tahun ini, yang saat itu masih mencetak yield di bawah dari 1%.

Kenaikan imbal hasil di AS secara konsisten diikuti dengan kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Indonesia yang bertenor sama. Pemodal melepas surat utang untuk menggunakan dananya membeli surat utang baru yang menjanjikan imbal hasil lebih tinggi karena ekspektasi kenaikan inflasi.

READ  Selama pandemi sebanyak 1.090 jamaah berumrah


qSumber: Refinitiv
Perbandingan Yield SBN AS dan RI Tenor 10 Tahun

Ekspektasi kenaikan inflasi di AS menguat setelah Presiden AS Joe Biden meluncurkan paket bantuan infrastruktur dan pemulihan ekonomi pada Rabu malam kemarin. Paket stimulus tersebut termasuk belanja besar-besaran untuk membangun sektor transportasi, jaringan telekomunikasi pita lebar (broadband), dan perumahan rakyat.

Terlepas dari kekhawatiran pasar soal inflasi tinggi yang mengerek yield di pasar surat utang, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral akan membiarkan inflasi menguat lebih tinggi dari target konvensional yang dipatoknya, sebesar 2%, demi membantu mencapai target pembukaan lapangan kerja penuh.

TIM RISET CNBC INONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Start Terdepan di MotoGP Doha, Martin Kenang Jasa Espargaro dan Vinales

Read Next

Trailer baru “Black Widow” tampilkan masa lalu Natasha Romanoff

Tinggalkan Balasan