Obral-obral! Sepekan Asing Jualan 10 Saham Non-Big Cap Ini

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham-saham non-bank papan atas di luar emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun (big cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan tekanan jual bersih (net sell) asing dalam sepekan terakhir, Senin (31 Mei-4 Juni 2021).

Beberapa saham tersebut di antaranya PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) Rp 178 miliar, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) Rp 76 miliar, dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) Rp 47 miliar.

Data BEI mencatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup minus 0,43% di 6.065 pada Jumat (4/6). Nilai transaksi mencapai Rp 11,10 triliun dengan volume perdagangan 18,70 miliar saham.

Sepekan terakhir IHSG naik 3,82% dengan catatan net buy asing Rp 2,83 triliun di pasar reguler.

Investor asing memang masih memborong saham-saham big cap bank papan atas di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan beli bersih Rp 1,3 triliun, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) net buy Rp 600 miliar, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 224 miliar.

Di tengah aksi beli bersih, ternyata sebanyak 10 saham ini terkena aksi jual bersih asing, berikut daftarnya.

10 Top Net Foreign Sell Sepekan (31 Mei-4 Juni) Reguler

1. Tower Bersama (TBIG), net sell Rp 178 M, saham +19,34% Rp 2.900

2. BFI Finance (BFIN), Rp 76 M, saham +14,97% Rp 845

3. Indah Kiat (INKP), Rp 47 M, saham +5,01% Rp 8.900

4. Integra Indocabinet (WOOD), Rp 41 M, saham -2,52% Rp 775

5. Sarana Menara (TOWR), Rp 39 M, saham +1,61% Rp 1.260

6. Vale Indonesia (INCO), Rp 33 M, saham +2,83% Rp 4.720

READ  Toyota Berkomitmen Mempertahankan Sedan di Tengah Penjualan SUV yang Meningkat

7. Bumi Serpong (BSDE), Rp 27 M, saham -1,77% Rp 1.110

8. Bank BTN (BBTN), Rp 25 M, saham +2,82% Rp 1.640

9. Pakuwon Jati (PWON), Rp 23 M, saham -0,80% Rp 496

10. Ciputra Development (CTRA), Rp 22 M, saham -0,93% Rp 1.060

Mengacu data BEI, bursa saham nasional sepekan lalu memang melesat nyaris 4%, menyusul kembalinya selera mengambil risiko (risk appetite) para investor di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 dan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Penguatan IHSG terjadi terutama di hari pertama perdagangan, hingga mencapai 1,7% dalam sehari, diikuti 3 hari selanjutnya. Koreksi terjadi hanya pada hari terakhir perdagangan, yakni sebesar -0,43%. Bursa nasional libur pada Selasa (1/6/2021) untuk memperingati Hari Pancasila.

Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy, memberikan rekomendasi untuk perdagangan saham dalam jangka menengah ke depan. Dia pun merekomendasikan saham dari dua sektor untuk semester dua tahun ini. Menurut Robertus, saham dalam sektor jasa keuangan dan telekomunikasi masih menjadi primadona.

“Kalau diperhatikan ada dua yang bisa dijadikan pilihan. Yang pertama tentu sebagai penopang indeks yang punya bobot paling besar yaitu sektor jasa keuangan, terutama perbankan yang termasuk kategori big five,” kata Robertus dalam program Investime CNBC Indonesia.

Menurutnya saham perbankan besar seperti Bank Central Asia, Bank Mandiri, BRI dan PT Bank Negara Indonesia TBk (BBNI) serta bank lainnya masih layak untuk dijadikan salah satu pilihan investasi.

“[Bank-bank ini] punya ketahanan terhadap restrukturisasi kredit di masa pandemi ini. Menurut kami mereka cukup manageable,” paparnya.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Kalahkan Pelita Jaya di Game Ketiga, Satria Muda Juara IBL 2021

Read Next

Han Stray Kids doakan sang mantan bahagia lewat “HaPpy”

Tinggalkan Balasan