Nyungsep & ‘Terbang’ Lagi, Harga Sawit Belum Bikin Happy!

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) selama sepekan ini menguat, meski terjadi aksi ambil untung di perdagangan terakhir pekan ini pada Jumat (2/4/2021) di Bursa Derivatif Malaysia.

Harga CPO kontrak pengiriman Mei 2021 yang aktif ditransaksikan melemah 0,1% ke RM 3.737/ton pada perdagangan Jumat. Pelemahan harga komoditas perkebunan andalan nasional tersebut terjadi akibat adanya ekspektasi kenaikan pasokan. Asosiasi Pabrik Kelapa Sawit Semenanjung Selatan pada Kamis mengumumkan kenaikan 39% dalam produksi pada Maret.

Namun secara mingguan, harga CPO masih terhitung menguat 1,2% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu (RM 3.692/ton). Ini membalik tren sepekan sebelumnya di mana harga CPO melemah 0,9% dari level RM 3.724/ton.

Penguatan mingguan terjadi karena secara global ada kekhawatiran bahwa pasokan kedelai dunia akan melemah, sehingga mendongkrak harga kedelai yang secara bersamaan juga diikuti kenaikan harga CPO sebagai minyak nabati pelengkap.

Reuters melaporkan petani di Amerika Serikat (AS) berencana untuk menanam kedelai baru di atas lahan seluas 87,6 juta hektare. Meski menurut Departemen Pertanian AS (USDA) aktivitas penanaman itu meningkat dengan laju yang terbesar sejak 2018, perkiraan tersebut jauh di bawah ekspektasi analis sebesar 90 juta hektare.

Penanaman tanaman komersial utama yang lebih kecil dari perkiraan di AS akan meningkatkan kekhawatiran tentang pasokan makanan dan pakan ternak global. Maklum AS adalah pemasok kedelai terbesar kedua di dunia.

Jika pemulihan ekonomi global berlangsung, tak ayal akan terjadi kenaikan permintaan minyak nabati untuk keperluan konsumsi masyarakat dan bahan baku industri. Hal ini berpeluang memicu kelangkaan, sehingga pelaku pasar komoditas pun memburu kontrak CPO yang berujung kenaikan harga sepekan ini.

READ  Harga CPO Sepekan Naik 5%, Waspada Aksi Profit Taking

Namun dalam jangka menengah, laporan stok biji-bijian kuartalan USDA mencatat level yang mendekati ekspektasi analis, dengan persediaan kedelai sebesar 1,564 miliar gantang atau sedikit lebih tinggi dari yang diantisipasi. Artinya, pasokan dalam jangka pendek masih aman.

Tidak heran, penguatan pada pekan ini belum cukup untuk menghapuskan koreksi sepanjang Maret, sebesar 3,5%, dari posisi akhir Februari yang sebesar RM 3.742/ ton. Masih ada kekhawatiran seputar pasokan berlebih yang membatasi penguatan harganya di pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Terlalu Banyak Tekanan di Ban Belakang, Rossi Risau Jelang MotoGP Doha

Read Next

Armie Hammer hengkang dari proyek teater “The Minutes”

Tinggalkan Balasan