Nasib Saham Konstruksi BUMN, Masih Diobral karena Utang Jumbo

Jakarta, CNBC Indonesia – Tercatat empat saham emiten BUMN Karya kembali ambles di zona merah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (6/4/2021). Kemarin (5/4), saham-saham emiten konstruksi pelat merah ditutup anjlok hingga menyentuh auto rejection bawah (ARB) dan menjadi top losers.

Berikut gerak pelemahan saham-saham BUMN Karya pagi ini, pukul 09.48 WIB

  1. Waskita Beton Precast (WSBP), saham -3,03%, ke Rp 192, transaksi Rp 28 M

  2. Waskita Karya (WSKT), -1,42%, ke Rp 1.040, transaksi Rp 120 M

  3. Wijaya Karya (WIKA), -1,05%, ke Rp 1.415, transaksi Rp 42 M

  4. Adhi Karya (ADHI), -0,48%, ke Rp 1.040, transaksi Rp 12 M

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham anak usaha WSKT, WSBP, menjadi saham paling ambles di antara saham lainnya, yakni sebesar 3,03% ke Rp 192/saham. Adapun nilai transaksi saham emiten produsen beton precast ini sebesar Rp 28 miliar.

Dengan pelemahan ini, saham WSBP belum pernah menghijau dalam sepekan, alias stagnan sekali dan empat kali terpuruk di zona merah. Alhasil, saham ini sudah ambles 16,52% dalam sepekan.

Secara kinerja keuangan, WSBP harus menderita rugi bersih Rp 4,86 triliun selama 2020.

Kerugian yang cukup besar ini, menghapus keuntungan yang diraih oleh WSBP selama bertahun-tahun. Sebagai gambaran, pada 2019 perseroan mencatatkan laba hanya Rp 803,84 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, kerugian yang terjadi disebabkan karena pendapatan usaha jatuh dari 7,47 triliun pada 2019 menjadi hanya Rp 2,21 triliun.

Setali tiga uang dengan sang anak, WSKT juga kembali memerah hari ini, sebesar 1,42% ke posisi Rp 1.040/saham. Nilai transaksi WSKT sebesar Rp 120 miliar.

Anjloknya saham WSKT pagi ini memperpanjang tren pelemahan sejak 12 hari lalu. Praktis, saham WSKT sudah anjlok 17,86% dalam sepekan, sementara dalam sebulan sudah terjun 26,33%.

WSKT menjadi perusahaan konstruksi pelat merah yang mencatatkan rapor kinerja keuangan paling buruk di antara yang lainnya.

Pada tahun lalu, WSKT membukukan rugi bersih Rp 7,38 triliun. Rugi bersih yang amat masif ini menyapu bersih seluruh laba ditahan Waskita yang sudah dikumpulkan sejak perseroan pertama kali berdiri pada tahun 1973 sehingga ekuitas WSKT saat ini hanya tersisa Rp 7,53 triliun, lenyap lebih dari separuh tepatnya 57,88% dari posisi tahun lalu Rp 17,88 triliun.

Bahkan, WSKT terpaksa membukukan rugi bruto sebesar Rp 1,97 triliun. Rugi bruto sendiri merupakan hal yang sangat negatif karena pendapatan usaha alias omset bahkan tidak dapat menutupi beban pokok pendapatan.

Alhasil, kerugian WSKT menyebabkan kas dan setara kas perseroan tersapu habis. Tercatat per akhir 2019 perseroan memiliki kas dan setara kas sebanyak Rp 9,2 triliun, sedangkan di akhir 2020 kas dan setara kas perseroan hanya tersisa Rp 1,2 triliun atau penurunan sebesar 87%.

Tercatat dari Rp 89 triliun utang WSKT, sebagian besar yakni Rp 48 triliun merupakan utang jangka pendek, sehingga perbandingan kas perseroan dengan utang jangka pendeknya atau biasa lebih dikenal dengan cash ratio berada di angka 2,5%, angka ini menunjukkan posisi kas perseroan yang sangat mini dan potensi gagal bayar yang cukup tinggi.

Seperti WSKT, WIKA juga mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Laba bersih perusahaan terjun menjadi senilai Rp 185,76 miliar pada 31 Desember 2020 lalu.

Nilai tersebut jauh dari capai perusahaan di periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 2,28 triliun, atau mengalami penurunan hingga 91,87% secara tahunan (year on year/YoY).

Turunnya pendapatan ini terutama terjadi karena turunnya pendapatan perusahaan di tahun lalu sebesar 39,23% YoY. Tercatat pada akhir tahun lalu pendapatan perusahaan senilai Rp 16,53 triliun dari sebelumnya di akhir Desember 2019 yang senilai Rp 27,21 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

READ  Sentuh Harga Rp 32.500, Jahja Setiatmadja Jual Saham BCA

admin

Read Previous

Puncaki Klasemen MotoGP, Johann Zarco: Saya Terkejut!

Read Next

Trailer perdana “Loki” tampilkan misteri setelah “Endgame”?

Tinggalkan Balasan