Kasihan.. Saham Lapis Kedua Ini Masuk Jajaran Top Losers

Asaljeplak.my.id –Reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan ini sebesar 1,15% (70,8 poin) ke 6.222,521 terhitung paripurna. Mayoritas saham unggulan menguat dan menyisakan saham-saham lapis kedua bertengger di daftar pencetak koreksi terburuk (top loser).

Menurut data RTI, lima saham yang pekan ini masuk jajaran top loser berasal dari berbagai sektor, mulai dari industri tekstil, jasa pengangkutan energi, peternakan, infrastruktur, hingga industri kimia dasar.

Saham PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) menjadi pemimpin koreksi, dengan melemah 15% selama sepekan ke level Rp 68 per saham. Saham PT Widodo Makmur Unggas Tbk menyusul dengan koreksi 14,9% ke Rp 240/unit.

Saham SBAT merupakan salah satu saham lapis kedua dengan tingkat fluktuasi yang tinggi. Saham emiten tekstil yang melantai di bursa pada 8 April 2020 ini ambles dari level 182 ke level 62 dalam waktu kurang dari 3 pekan. Sebelumnya saham ini melesat hampir 100%. Setelah mencapai harga tertingginya pada 19 Januari lalu, saham SBAT terus longsor. 

Saham WMUU juga tertekan hebat sejak mencatatkan saham perdananya (listing) pada 2 Februari 2021. Pada hari ketiga listing, saham WMUU sempat melesat kencang hingga ke level tertingginya 23,18% ke Rp 372/saham. Nmun, saham perseroan tiba-tiba anjlok hingga menyentuh batas bawahnya (auto reject bawah/ARB), drop 6,38% ke Rp 282/saham.

Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) melaporkan harga jual ayam siap potong (livebird) anjlok di kisaran Rp 15.000 per kilogram (kg) di Pulau Jawa karena kelebihan pasokan, sementara permintaan pasar masih lesu. Sementara itu, harga pokok produksi menyentuh Rp 19.300/kg akibat kenaikan harga bibit ayam (days-old chicken/DOC) dan pakan.

READ  IHSG Dihajar dari Dalam, Sepekan Keok 1% Lebih

Saham lainnya yang masuk jajaran top loser adalah saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) yang bergerak di bidang pengangkutan energi, utamanya minyak bumi. Ini merupakan anomali mengingat harga minyak mentah jenis Brent menguat 5,2% ke level harga US$ 60 per barel.

Namun, pandemi telah memukul kinerja perseroan terutama karena pada 2019 emiten berkode saham BULL tersebut telah membeli 14 kapal sementara permintaan pengangkutan masih lesu seiring dengan turunnya aktivitas transportasi nasional.

Saham lain yang tertekan adalah PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII) yang sebelumnya sempat menguat karena sentimen positif dari vaksinasi. Sebagaimana diketahui, perseroan merupakan pemain utama gas untuk keperluan medis, termasuk pendinginan vaksin.

Di tengah lambatnya program vaksinasi nasional, aksi ambil untung pun menerpa. Sejauh ini baru 1,1 juta orang yang menerima vaksin anti-Covid-19, dari 265 juta penduduk Indonesia

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Sean Gelael Raih Podium Dua di Seri Pembuka Asian Le Mans Series 2021

Read Next

Di balik buku puisi baru Theoresia & Weslly yang lahir saat pandemi

Tinggalkan Balasan