Isu Tapering Muncul, Harga Mayoritas SBN Kembali Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali menguat pada perdagangan akhir pekan Jumat (4/6/2021), di tengah pelemahan bursa saham global dan dalam negeri, karena investor khawatir akan isu tapering yang kembali muncul pada pekan ini.

Secara mayoritas, SBN kembali ramai dikoleksi oleh investor, ditandai dengan turunnya yield di sebagian besar obligasi pemerintah. Hanya di SBN bertenor 1 tahun yang cenderung dilepas oleh investor dan yield-nya mengalami kenaikan tajam.

Yield SBN bertenor 1 tahun dengan kode FR0061 naik signifikan sebesar 14,1 basis poin (bp) ke level 3,645%, dari sebelumnya di level 3,504% pada penutupan perdagangan Kamis (3/6/2021) kemarin. Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara turun sebesar 1,4 bp ke posisi 6,44% pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Isu tapering (pengurangan stimulus bank sentral AS) kembali muncul dan membuat sebagian pasar saham di Asia dan dalam negeri melemah pada hari ini. Isu tersebut kembali muncul setelah Presiden bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) wilayah Philadelphia, Patrick Harker mengatakan saat ini waktu yang tepat untuk memikirkan mengenai pengurangan QE (quantitative easing).

Isu tersebut semakin menguat setelah rilis data tenaga kerja AS kemarin. Automatic Data Processing Inc. (ADP) kemarin melaporkan sepanjang bulan Mei sektor swasta AS menyerap 978.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian. Penambahan tersebut jauh lebih banyak ketimbang bulan sebelumnya 654.000 tenaga kerja.

READ  Yield US Treasury 2021 Bisa di Atas 2%, Ini Efeknya ke Rupia

Data ini biasanya dijadikan acuan rilis data tenaga kerja versi pemerintah AS yang dikenal dengan istilah non-farm payrolls (NFP). Hasil survei dari Dow Jones memperkirakan NFP sepanjang bulan Mei sebanyak 671.000 pekerja, naik dari bulan sebelumnya 266.000 tenaga kerja.

Data tenaga kerja AS merupakan salah satu acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter, selain data inflasi. Pada Jumat pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan data inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE). Data tersebut merupakan inflasi acuan bagi The Fed.

Inflasi PCE inti dilaporkan tumbuh 3,1% year-on-year (yoy) di bulan April, jauh lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya 1,8% yoy. Rilis tersebut juga lebih tinggi ketimbang hasil survei Reuters terhadap para ekonomi yang memprediksi kenaikan 2,9%. Selain itu, rilis tersebut juga merupakan yang tertinggi sejak Juli 1992, nyaris 30 tahun terakhir.

Inflasi yang tinggi, serta pasar tenaga kerja yang menguat maka ekspektasi tapering pun semakin kencang. Kecemasan akan taper tantrum kembali muncul. Namun, jika hal ini terjadi, dibarengi dengan kenaikan inflasi RI, maka yield SBN sebenarnya cukup menarik, karena yield SBN lebih rendah dari inflasi yang jika benar mengalami peningkatan.

Dari AS, yield obligasi pemerintah (Treasury) acuan terpantau bergerak naik pada Jumat dini hari waktu AS, jelang rilis data laporan pekerjaan baru. Mengutip data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik 0,1 bp ke level 1,628% pada pukul 02:00 waktu AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

French Open 2021: Serena Williams ke 16 Besar untuk Pertama Kali dalam Tiga Tahun

Read Next

Aktor Donnie Yen akan bintangi “John Wick 4”

Tinggalkan Balasan