Ikuti Tren di Kawasan Asia, Bursa Eropa Dibuka Melemah

Jakarta CNBC Indonesia – Bursa Eropa bergerak ke jalur merah pada sesi awal perdagangan Jumat (19/3/2021), menyusul kenaikan kembali imbal hasil (yield) obligasi acuan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memicu kekhawatiran seputar valuasi saham.

Indeks Stoxx 600 tertekan 0,6% di pembukaan, dengan indeks saham sektor otomotif anjlok 1,5% memimpin koreksi sementara indeks saham sektoral lainnya kompak melemah, kecuali sektor utilitas.

Selang 30 menit kemudian, indeks berisi 600 saham utama di Eropa itu surut 1,7 poin (-0,4%) ke 424,87. Sementara itu, Indeks DAX Jerman drop 56,2 poin (-0,38%) ke 14.719,34 dan CAC Prancis turun 42,3 poin (-0,7%) ke 6.020,45. Di sisi lain, indeks FTSE Inggris melemah 40,9 poin (-0,6%) ke 6.738,77.

Bursa Eropa mengikuti arah pergerakan di Asia Pasifik, di mana mayoritas saham kebanyakan melemah di tengah aksi jual. Bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) mengumumkan kebijakan baru yang membiarkan obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berfluktuasi + 0,25%.

Sementara itu, bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) mempertahankan suku bunga acuan dan program pembelian aset, mengikuti bank sentral AS yang kian hati-hati dalam memandang prospek kenaikan suku bunga acuan.

Saham sektor teknologi terpelanting setelah imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun melompat 11 basis poin (bp) menembus angka 1,75% atau menjadi yang pertama sejak Januari 2020. Indeks Nasdaq pun anjlok 3% dan kembali ke level penutupan pada 25 Februari.

Kontrak berjangka (futures) yang terkait dengan indeks saham AS bergerak mixed pada awal perdagangan setelah imbal hasil obligasi acuan AS surut ke level 1,68%. Harga minyak melemah menyusul kemungkinan pembatasan masyarakat di Eropa akibat gelombang baru infeksi.

READ  Hasil NBA: Heat Menang Atas Celtics di Gim 1 Final Wilayah Timur

Jerman dan Prancis pun memutuskan menggunakan kembali vaksin AstraZeneca setelah regulator obat Eropa dan Inggris merekomendasikan penggunaannya meski ada dugaan efek samping mematikan berupa penyumbatan darah.

Pelaku pasar juga bakal memantau rilis sentimen konsumen pada Maret, yang dirilis survey GfK, dengan harapan ada indikasi pemulihan ekonomi yang terlihat menyusul pemberlakuan kembali karantina wilayah (lockdown) terbatas di beberapa kota.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

LeBron James Gemilang Bawa Lakers Taklukkan Hornets 116-105

Read Next

Deden Noy sudah dikontak perwakilan Tama dan Sabian

Tinggalkan Balasan