IHSG Hari Ini Kayak Pacaran, Masih Banyak Ketidakpastian

Jakarta, CNBC Indonesia – Kalender bulan Maret telah gugur dan kini masuk April. Itu artinya satu kuartal sudah berlalu di tahun 2021. Pasar masih saja menunjukkan gejolaknya. Kinerja aset-aset keuangan dalam negeri bisa dibilang tak memuaskan sepanjang tiga bulan awal 2021. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 0,11%. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 11% dan rupiah terdepresiasi 3,42% di hadapan greenback sepanjang kuartal pertama. 

Dalam seminggu terakhir IHSG dan rupiah kompak terperosok dengan koreksi masing-masing 2,97% dan 0,76%. Sementara itu yield SBN tenor 10 tahun naik 1,2 basis poin.

Volatilitas di pasar memang sedang tinggi. Sentimen negatif dari dalam dan luar negeri terus menggempur pasar keuangan global dan domestik.

Dari luar negeri yield surat utang pemerintah AS yang terus naik masih menjadi momok utama bagi para pelaku pasar. Yield obligasi pemerintah AS yang terkenal minim risiko ini bahkan sempat tembus 1,75% dan melampaui imbal hasil dividen S&P 500 yang hanya 1,5%.

Kenaikan yield obligasi AS turut mengerek imbal hasil SBN. Banyak asing yang melego SBN. Per 29 Maret saja posisi asing yang memegang SBN mengalami penurunan Rp 23,6 triliun dibanding posisi akhir tahun lalu.

Di pasar saham, asing juga berjualan. Sebanyak Rp 4,15 triliun keluar dari bursa saham Tanah Air. Adanya capital outflow inilah yang juga menekan kinerja rupiah yang selama ini cenderung kecanduan hot money


Kenaikan yield berarti borrowing cost menjadi lebih mahal sehingga bisa menggerus profitabilitas emiten yang menerbitkan obligasi. Di sisi lain yield yang terus menguat juga membuat biaya peluang memegang aset lain seperti saham yang berisiko menjadi meningkat sehingga kurang menarik. 

READ  Tak Perlu Takut Resesi,Yang Penting Strategi Recovery

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK). Manajemen BPJS TK disebut akan mengurangi porsi investasi di saham dan reksa dana. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka Asset Matching Liabilities (ALMA) Jaminan Hari Tua (JHT).

Diketahui BPJS TK merupakan salah satu investor institusi raksasa. Sehingga apabila porsi investasi dikerdilkan berpotensi adanya arus uang keluar dari pasar modal dalam jumlah yang lumayan.

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

IBL 2021: Satria Muda Serius Jalani Seri Akhir meski Sudah Lolos Play-off

Read Next

Kemarin, Anggun raih penghargaan hingga Hummer EV 2024 diperkenalkan

Tinggalkan Balasan