Garuda Indonesia Punya Utang Rp 70 Triliun, Erick Thohir : Bisnis Gaya-gayaan

Asaljeplak.my.id –Menteri BUMN Erick Thohir berjanji tidak akan membiarkan permasalahan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berlarut-larut. Apalagi diketahui Garuda Indonesia memiliki utang sebesar Rp 70 triliun.

Mantan Bos Klub Inter Milan ini menjelaskan, permasalahan Garuda tidak lepas dari kondisi dunia yang dihantam Pandemi Covid-19, sehingga memberi dampak pada industri penerbangan di Indonesia.

“Industri penerbangan mau yang punya pemerintah atau swasta sangat terdampak. Tentu kita tidak boleh menutup diri atau berdiam diri, kita harus melakukan terobosan, harus melakukan perbaikan, tidak mungkin didiamkan,” ujar Erick dalam konferensi pers di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Erick yang juga sebagai Ketua Pelaksana KPCPEN ini menuturkan, selain menyiapkan opsi penyelamatan Garuda, pihaknya juga tengah mencari jalan keluar lain untuk mengurangi biaya-biaya.

Baca Juga:
Punya Utang Rp 70 Triliun, Garuda akan Fokus ke Penerbangan Domestik

Salah satunya, dengan melakukan negosiasi kepada pihak yang menyewakan pesawat atau lessor.

“Ingat, ada dua kategori lessor, lessor yang sudah terbukti kerja sama dengan direksi Garuda yang melakukan tindak pidana korupsi tapi ada juga lessor yang baik, ketika kita lakukan kerja sama tanpa feedback, tapi itu pun dengan kondisi hari ini kemahalan, jadi kita negoisasi ulang,” jelasnya.

Menurut Erick, potensi perbaikan di tubuh maskapai pelat merah ini sangat terbuka. Dengan begitu, Garuda bisa memanfaatkan potensi untuk bisa memulihkan kondisi keuangannya.

“Sudah kita bicarakan pada November-Januari sebelum pandemi kepada direksi, kita sudah bilang fokus domestik. Kita ini bukan bisnis gaya-gayaan, wah terbang ke luar negeri, gaya,” pungkas Erick.

Baca Juga:
Sejumlah Komisaris di Garuda Indonesia Bakal Dibuang Erick Thohir

READ  Langgar PSBB, Warunk Upnormal Tebet dan 2 Restoran Lain Ditutup Satpol PP

Berita ini telah terbit pertama kali di SUARA

admin

Read Previous

PPnBM 50 persen berlaku, apakah masih menarik minat konsumen?

Read Next

Puan: Pemenuhan kebutuhan Alutsista harus sesuai karakteristik negara

Tinggalkan Balasan