Di Tengah Skandal Monopoli, Alibaba Terbitkan Obligasi Rp70 T

Jakarta, CNBC Indonesia – Alibaba Group Holding Ltd China berencana menerbitkan obligasi mata uang dolar dengan target perolehan dana US$ 5 miliar atau setara Rp 70 triliun (Kurs Rp 14.000 per US$) di tengah pengawasan yang dilakukan oleh miliarder Jack Ma.

Mengutip Reuters, Rabu (6/1/2021) hasil dari penerbitan obligasi ini bahkan bisa mencapai US$ 8 miliar yang kemungkinan akan digunakan untuk pengeluaran perusahaan secara umum. Demikian yang disampaikan oleh satu dari 4 orang sumber.

Penerbitan obligasi ini akan menjadi ujian bagi sentimen investor terhadap Alibaba, di tengah tindakan keras regulasi terhadapnya dan afiliasi teknologi keuangan Ant Group.

Pejabat China telah bersikap keras terhadap kerajaan bisnis Jack Ma sejak dia secara terbuka mengkritik sistem peraturan negara pada bulan Oktober yang memicu serangkaian peristiwa yang mengakibatkan penghentian pencatatan pasar saham Ant Group senilai US$ 37 miliar.

Absennya Ma dari publik telah memicu spekulasi media sosial tentang keberadaannya. Rencana penjualan obligasi, termasuk jadwal, belum final dan dapat berubah, kata sumber, menolak untuk diidentifikasi karena mereka tidak berwenang untuk berbicara dengan media. Sementara itu, Alibaba menolak berkomentar.

Sejak pidato Ma, regulator China telah memulai penyelidikan antitrust ke Alibaba dan memerintahkan fintech Ant untuk mengubah bisnis pinjaman dan keuangan konsumen lainnya, termasuk pembentukan perusahaan induk untuk memenuhi persyaratan modal.

Presiden AS Donald Trump juga meningkatkan ketegangan, bergerak untuk melarang transaksi dengan delapan aplikasi perangkat lunak China, termasuk aplikasi pembayaran seluler Alipay dari Ant Group.

Regulator China juga meninjau investasi ekuitas Ant di beberapa perusahaan dan mempertimbangkan apakah akan menginstruksikan perusahaan tersebut untuk mendivestasikan sebagian dari investasi tersebut.

READ  RI Bisa Terlepas Dari Resesi, Harga Obligasi Pemerintah Naik

“Investor akan membutuhkan Jack Ma untuk membuat semacam penampilan publik untuk memberi mereka kepercayaan agar obligasi diterima dengan baik,” kata seorang analis kredit Asia dengan bank Eropa, yang enggan disebut namanya.

“Mengingat situasi Alibaba saat ini, mereka harus memberi harga premium, Tapi dalam jangka panjang, Alibaba masih menjadi perusahaan yang layak untuk diinvestasikan,” imbuhnya.

Saham Alibaba yang terdaftar pada indeks Hang Seng naik 4% pada hari Rabu, sementara terjadi penurunan 0,4% pada indeks Hangseng. Harga saham telah turun 5,6% selama tiga sesi terakhir.

Bulan lalu, Alibaba mengatakan akan meningkatkan nilai pembelian kembali saham menjadi US$ 10 miliar dari US$ 6 miliar.

Penawaran obligasi internasional Alibaba, jika diselesaikan akan menjadi yang ketiga bagi grup tersebut. Alibaba sebelumnya juga telah menerbitkan obligasi dolar US$ 8 miliar pada 2014, dan US$ 7 miliar pada 2017.

Dengan penjualan obligasi terbarunya, Alibaba akan bergabung dengan banyak perusahaan Asia yang dalam beberapa bulan terakhir telah memanfaatkan biaya pinjaman yang lebih murah dan likuiditas yang melimpah di pasar global.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Bertanding di Situasi Sulit, Gloria Emanuelle Widjaja Enggan Mengeluh

Read Next

Dr. Dre dikabarkan alami aneurisma otak

Tinggalkan Balasan