Bos Pfizer Jual Saham Saat Rilis Vaksin, Insider Trading?

Jakarta, CNBC Indonesia – Chief Executive Officer (CEO) Pfizer Albert Bourla menjual kepemilikan saham perusahaannya senilai hampir US$ 5,6 juta setara dengan Rp 78,40 miliar (kurs Rp 14.000/US$.

Penjualan dilakukan pada Senin (9/11/2020), pada hari yang sama saat produsen obat tersebut mengumumkan hasil uji coba vaksin covid-19 yang membuat harga saham melonjak.

Harga saham Pfizer melonjak di New York Stock Exchange (NYSE) hampir 15% pada hari Senin setelah perusahaan dan mitranya BioNTech mengatakan vaksinnya 90% efektif dalam mencegah Covid-19 dalam uji coba tanpa bukti infeksi sebelumnya.

Bourla menjual 132.508 saham dengan harga rata-rata US$ 41,94 per saham atau hampir US$ 5,6 juta, seperti dikutip CNBC International dari data administrasi efek.

Penjualan tersebut merupakan bagian dari perdagangan yang termasuk dalam Aturan SEC 10b5-1. SEC atau United States Securities and Exchange Commission adalah Komisi Sekuritas dan Bursa AS.

Aturan SEC 10b5-1 diberlakukan untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan mengenai definisi perdagangan orang dalam (insider trading), yang dilarang oleh aturan SEC 10b-5 tersebut.

Tidak jelas kapan Bourla mengetahui tentang data vaksin positif, meskipun eksekutif lain Dr Kathrin Jansen, kepala penelitian dan pengembangan vaksin di Pfizer, mengatakan kepada The New York Times bahwa dia mengetahui hasilnya pada pukul 1 siang, pada hari Minggu.

Penjualan tersebut menyumbang 61,8% saham yang dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Bourla. Dia masih memiliki 81.812 baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pfizer mengonfirmasi penjualan saham tersebut dalam sebuah pernyataan, tapi menegaskan bahwa Bourla memiliki kepemilikan yang lebih besar di perusahaan melalui “rencana investasi yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat”, yang kemungkinan berarti opsi saham yang bisa dipergunakan di kemudian hari.

“Setelah bersama perusahaan selama lebih dari 25 tahun, Albert memiliki sejumlah besar saham Pfizer berdasarkan rencana tabungan kami yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat,” kata juru bicara Pfizer dalam sebuah pernyataan.

“Dia sekarang memegang sekitar sembilan kali gajinya di saham Pfizer setelah penjualan minggu ini.”

Menurut laporan 2019 Pfizer, Bourla, yang menjadi CEO pada 1 Januari 2019, dibayar dengan gaji pokok sebesar US$ 1,65 juta atau Rp 23 miliar mulai tanggal 1 April. Sembilan kali gaji itu sama dengan nilai saham sekitar US$ 15 juta.

Analis bioteknologi Baird, Brian Skorney, membenarkan penjualan tersebut, dengan mengatakan bahwa itu adalah “ini merupakan sorotan tentang bagaimana kapitalisme dapat bekerja sebaik-baiknya”.

“Hal yang hebat dari industri biofarma adalah adanya skema insentif bagi industri swasta untuk menghasilkan obat-obatan yang bermanfaat mengubah dinamika perawatan kesehatan di negara ini,” katanya dalam wawancara telepon.

“Saya tidak tahu bahwa bahkan ada contoh, yang pasti tidak dalam hidup saya yang dapat saya tunjukkan, di mana sesuatu akan memiliki efek positif yang drastis di seluruh dunia seperti vaksin untuk Covid.”

Skorney mengatakan bahwa Bourla “sepenuhnya layak menerima ini” dan bahwa keuntungannya dari penjualan itu sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan bersih yang akan diberikan oleh vaksin Covid-19 yang efektif kepada dunia.

“Lebih dari itu, saya merasa seperti saya sendiri yang harus mengirimkan uang kepada Albert sebagai, ‘Terima kasih,'” kata Skorney. “Kami memiliki garis pandang untuk mencapai ujung terowongan gelap ini dan itu sebagian besar berkat upaya di Pfizer dan kepala eksekutif.”

Bourla bukanlah eksekutif farmasi atau bioteknologi pertama yang mendapatkan keuntungan dari saham perusahaannya selama pandemi.

Lima eksekutif teratas di perusahaan biotek Moderna, yang masih mengembangkan vaksin Covid-19, telah menjual lebih dari US$ 80 juta tahun ini karena saham perusahaan melonjak lebih dari 300% sejak 1 Januari, Stat News melaporkan awal tahun ini.

Tetapi Moderna, tidak seperti Pfizer, yang menerima uang dari pemerintah AS untuk membantu mendanai penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19 melalui Operation Warp Speed, yang merupakan upaya pemerintahan Trump untuk segera membawa vaksin dan terapi ke pasar.

Pfizer berpartisipasi dalam Operation Warp Speed dengan menerima uang untuk akuisisi dan distribusi dosis vaksin, tetapi pendanaan federal tidak digunakan untuk pengembangan vaksin.

Saham Moderna telah melonjak tahun ini selama pandemi, saham Pfizer turun lebih dari 2% sejak 1 Januari.

Skorney mengatakan bahwa perusahaan mungkin tidak mendapatkan keuntungan sebanyak itu secara langsung dari membawa vaksin Covid-19 ke pasar. Tidak jelas seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dari vaksin tersebut.

Meskipun demikian, Jay Clayton, ketua Komisi SEC, telah memperingatkan para eksekutif agar tidak menjual saham di tengah volatilitas pandemi karena dapat menciptakan preseden yang buruk.

“Jika Anda adalah seorang eksekutif dari perusahaan publik di saat seperti ini, mungkin ada keadaan istimewa di mana Anda akan berada di pasar, tetapi, seperti yang telah kami katakan untuk waktu yang lama, dalam masa yang tidak menentu ini, mohon praktikkan tata kelola perusahaan yang baik ,” katanya kepada CNBC pada Mei.

“Mengapa Anda, bahkan ingin mengajukan pertanyaan bahwa Anda melakukan sesuatu yang tidak pantas?”

[Gambas:Video CNBC]

(hps/tas)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Ini Pembalap yang Diprediksi Menjadi Pengganti Iannone di Aprilia

Read Next

Akhir bulan ini, Kai EXO akan debut solo lewat “KAI (开)”

Tinggalkan Balasan