Berujung Cuan, Mengungkap Strategi Efisiensi Bank Mega

Jakarta, CNBC Indonesia– Efisiensi menjadi kunci penting di tengah beban berat yang diakibatkan oleh Pandemi Covid-19. Hal ini disebutkan oleh laporan berjudul “Outlook 2020: Industry Trends and The Challenges Ahead” yang dirilis pada April 2020, lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) Bancography menilai ada dua pelajaran penting dari pandemi corona terhadap pelaku industri jasa keuangan dan perbankan.

Pertama, pendapatan yang menurun akibat turunnya permintaan kredit dan perlambatan ekonomi, memaksa bank dan lembaga pembiayaan menjaga profitabilitas dengan mengurangi beban operasional. Kedua, Covid-19 mengajari masyarakat mempercepat migrasi ke digital.

Efisiensi juga menjadi perhatian PT Bank Mega Tbk (MEGA) untuk menjaga kinerja di masa pandemi. Demikian hasil riset dari Tim Riset CNBC Indonesia.

Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib mengatakan strategi dalam meningkatkan laba adalah dengan meningkatkan pendapatan, baik pendapatan bunga maupun fee based income. Selain itu, perusahaan juga harus menurunkan biaya, yakni biaya bunga atau cost of fund dan biaya operasional.

Langkah terbukti berhasil dan mendongkrak efisiensi, di samping menumbuhkan pendapatan. Efisiensi Bank Mega menurut temuan Tim Riset CNBC Indonesia menjadi yang terbaik di antara bank sejenis di kelasnya.

Perseroan tercatat sukses mengendalikan beban operasional (untuk membiayai operasi kantor cabang, gaji karyawan, dlsb), melalui inovasi digital dan otomasi yang telah diberlakukan sejak 2 tahun terakhir, baik untuk back office maupun front office.

Rasio beban operasi terhadap pendapatan operasi (BOPO) perseroan pun hanya 71% atau turun dari September lalu (74,8%). Angka tersebut mendekati kisaran ideal yang dipatok Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di level 70%.

Angka tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan rerata industri yang menurut data terbaru OJK (per Agustus) berada di level 85%. Jika dibandingkan dengan bank sejenis, yang sebesar 100,7%, maka rasio efisiensi Bank Mega tersebut jauh lebih baik. Sebagai perbandingan, rasio BOPO PT Bank Tabungan Negara Tbk per September mencapai 93%.

Keunggulan efisiensi Bank Mega juga tidak terlepas dari program otomasi dan digitalisasi yang telah dirintis perseroan, khususnya dalam dua tahun terakhir. Kedua program tersebut, mengutip penelitian McKinsey berjudul “The Transformative Power of Automation in Banking” (2017) bisa berujung pada efisiensi hingga sebesar 35%.

“Perbankan konvensional tak boleh tertinggal, harus transformasi digital,” ujar Kostaman.

Menurutnya, digitalisasi dan otomasi adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan untuk untuk mengikuti perubahan gaya hidup.

“Beberapa yang dilakukan Bank Mega adalah melalui Chat Bot Mila, berbentuk robot yang dapat komunikasi menjawab pertanyaan nasabah. Kemudian aplikasi M-Smile, Mega Smart Mobile. Aplikasi ini memudahkan nasabah dalam melakukan aktivitas perbankan,” katanya.

Keunggulan melakukan efisiensi di tengah pandemi, yang dikombinasikan dengan kelihaian menyelia sektor yang jadi target penyaluran kredit, berujung pada positifnya pendapatan bunga perseroan bahkan ketika perekonomian sedang tertekan.

Jika dalam kondisi resesi saja kinerja positif tersebut terjaga, maka ada peluang besar bahwa kinerja Bank Mega bakal terdongkrak lebih tinggi lagi ketika ekonomi benar-benar menunjukkan pemulihan.

Selengkapnya, baca Riset CNBC Indonesia tentang Ini Kunci Pendongkrak Kinerja Bank Mega di Kala Pandemi

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)

Berita ini telah terbit pertama kali di CNBC

admin

Read Previous

Isu Marc Marquez Tak Bisa Balapan di MotoGP 2021, Dovizioso Jadi Pengganti?

Read Next

Vidi Aldiano kolaborasi dengan PJ Morton Maroon 5

Tinggalkan Balasan